Close Menu
Terkini.co
  • Nasional
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Peristiwa
  • Polhukam

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Puan Berharap Tahun 2026 Memberi Kebaikan

January 13, 2026

Mitra Gojek Dapat Kemudahan Lewat Platform Bursa Kerja GoTo

December 18, 2025

Goto Bantu Mitra Driver Terdampak Bencana di Aceh dan Sumatra

December 5, 2025
Facebook X (Twitter) Instagram
Facebook X (Twitter) Instagram
Terkini.co
Login
  • Nasional
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Peristiwa
  • Polhukam
Terkini.co
Home»DPR»Habiburokhman: RUU KUHAP Cegah Kesenjangan Perlindungan HAM dalam Sistem Peradilan Pidana
DPR

Habiburokhman: RUU KUHAP Cegah Kesenjangan Perlindungan HAM dalam Sistem Peradilan Pidana

RedaksiBy RedaksiJanuary 23, 2025No Comments3 Mins Read0 Views
Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman/Ist
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest WhatsApp Email

Saat ini, Komisi III DPR RI sedang bekerja untuk menyusun sekaligus memperbaharui Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP). Hal ini sebagai respon terhadap permasalahan mendasar penegakan hukum di Indonesia. Ketua Komisi III DPR RI Habiburokhman menegaskan penyusunan RUU KUHAP merupakan sebuah peluang untuk menutup celah adanya kesenjangan perlindungan hak asasi manusia (HAM) yang kerap sering terjadi dalam proses peradilan pidana.

Pernyataan ini disampaikannya saat membuka agenda konsultasi publik dengan tema ‘Urgensi dan Pokok-Pokok Pembaharuan Hukum Acara Pidana’ yang digelar secara daring bersama Badan Keahlian (BK) DPR RI di Gedung Sekretariat Jenderal DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (23/1/2025).

“Masalah yang kita hadapi saat ini bukan hanya soal aturan, tetapi implementasi yang sering kali mengabaikan hak-hak dasar tersangka, terdakwa, hingga terpidana,” jelas Habiburokhman.

KUHAP sebagai Penjaga Keseimbangan HAM dan Penegakan Hukum

Selama diskusi berlangsung bersama para pakar hukum, aparat penegak hukum, dan perwakilan masyarakat sipil, Habiburokhman mengungkapkan bahwa KUHAP harus berfungsi sebagai penjaga keseimbangan antara penegakan hukum yang tegas dan perlindungan HAM. Ia mencontohkan bagaimana hak tersangka untuk didampingi penasihat hukum sering kali dibatasi oleh aturan internal seperti jam besuk.

“Ini tidak sejalan dengan semangat perlindungan HAM. KUHAP baru harus memastikan hak-hak ini terjamin secara penuh,” tambahnya.

“Restorative justice memungkinkan penyelesaian kasus pidana ringan tanpa harus melalui penahanan, yang selama ini justru memperparah kondisi lapas kita”

Selain itu, salah satu inovasi utama yang diusulkan dalam pembaharuan KUHAP adalah penguatan konsep hukum keadilan restoratif (restorative justice). Dirinya menyatakan, penyusunan RUU KUHAP harus bisa menjadi solusi untuk mengatasi masalah overkapasitas penjara yang sangat mengkhawatirkan. Tidak hanya itu saja, pendekatan ini dinilai relevan untuk kasus-kasus tertentu, seperti ujaran kebencian atau konflik politik, yang mana penyelesaiannya bisa melalui dialog daripada pemidanaan formal.

“Saya tidak pernah menemukan lembaga pemasyarakatan dengan kapasitas ideal. Restorative justice memungkinkan penyelesaian kasus pidana ringan tanpa harus melalui penahanan, yang selama ini justru memperparah kondisi lapas kita,” ujarnya.

Di sisi lain, Selain memperjuangkan hak tersangka, pembaharuan KUHAP juga diarahkan untuk memperbaiki fungsi dan kewenangan institusi penegak hukum, termasuk advokat. Habiburokhman mengkritik praktik yang selama ini melemahkan profesi advokat. “Advokat hanya diminta duduk diam saat mendampingi klien di proses pemeriksaan. Ini pelecehan profesi. KUHAP baru harus menjamin peran advokat yang lebih aktif dalam melindungi hak-hak klien mereka,” tegasnya.

Partisipasi Publik sebagai Kunci Pembaharuan KUHAP

DPR RI membuka pintu lebar-lebar bagi masyarakat untuk memberikan masukan dalam proses penyusunan KUHAP ini. Sebab itu, tegasnya, DPR RI mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat dalam proses ini demi menciptakan regulasi yang mampu mengatasi persoalan hukum yang ada, sekaligus memastikan bahwa keadilan substansial benar-benar menjadi prinsip utama dalam penegakan hukum di Indonesia.


“Kami siap menerima aspirasi dari semua pihak, termasuk akademisi, organisasi masyarakat, dan advokat publik”

Terakhir, dengan nantinya diberlakukan KUHP baru pada 1 Januari 2026, pembaharuan KUHAP diharapkan menjadi langkah nyata untuk menciptakan sinergi antara hukum material dan formal sekaligus menjadi tonggak perubahan dalam sistem peradilan pidana yang lebih transparan, adil, dan manusiawi.

“Ini bukan sekadar pembahasan teknis, tetapi upaya bersama untuk menciptakan sistem hukum yang lebih berkeadilan. Kami siap menerima aspirasi dari semua pihak, termasuk akademisi, organisasi masyarakat, dan advokat publik,” tandas Politisi Fraksi Partai Gerindra itu.

DPR RI HAM Indonesia RUU KUHAP
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleBKSAP Dorong Penguatan Kerja Sama Bidang Pendidikan dengan Polandia
Next Article Komisi XII & Dubes Singapura Bahas Potensi Kerja Sama Sektor EBT
Redaksi

Related Posts

Puan Berharap Tahun 2026 Memberi Kebaikan

January 13, 2026

Eddy Soeparno Ajak Anak Muda Dukung Kepemimpinan Prabowo Hadapi Krisis Iklim

September 8, 2025

Catatan Politik Bamsoet: Membarui Konstitusi Agar Negara Adaptif di Era AI-Post Truth

September 7, 2025
Berita Terkini

Puan Berharap Tahun 2026 Memberi Kebaikan

January 13, 20260 Views

Mitra Gojek Dapat Kemudahan Lewat Platform Bursa Kerja GoTo

December 18, 20250 Views

Goto Bantu Mitra Driver Terdampak Bencana di Aceh dan Sumatra

December 5, 20253 Views

Hakim MK Arsul Sani Harus Mundur Jika Terbukti Pakai Ijazah Palsu

October 19, 20255 Views

Aktivis 98 Tampung Aspirasi Lewat Gerakan #WargaPeduliWarga

September 28, 20254 Views
© 2026 Terkini.co
  • Redaksi
  • Privacy Policy
  • Pedoman Media Siber

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?